BEST CLASS E/KP/07

BEST CLASS E/KP/07

Minggu, 28 Maret 2010

aSkep PeRitonitis

Rukmini Rahim
04.06.1536
E /KP / VI


BAB I
Landasan Teori

1. PENGERTIAN
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. Peritonitis adalah sautu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri.peritoneum adalah mesoderm lamina kateralis yang bersifat epitelleal. Pada permulaa, mesoderm merupakan dinding dari seprang rongga yaitu coelom. Diantara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Enteron di daerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga terdapat entoderm. Dorsal dan ventral usus saling mendekat, sehingag medodern tersebut kemudian menajdi petironium. Lapisan peritoneum dibagi menajdi 3 yaitu :
1. Lemabran yang menutupi dinding usus, disebut lamina virceralis (tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis
3. Lembaran yang menhubungkan lamma visceralis dan lamina parietalis.

2. GEJALA-GEJALA PERITONITIS
Relatif sama dengan infeksi berat (airnya, yakni demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takkikardi, dehidrasi hingag menjadi hipotensi, nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai infeks. Dinding perut akan terasa tegang , nyeri perut, demam dan gangguna pergerakan / motifitas usus. Gejala klinis lainnya yang dapat ditemukan misalnya gangguan fungsi hati (hepatitik ensefalopati) atau gangguan fungsi ginjal. Nyeri abdomen mual, munta, diare nyeri tekanan abdomen yang difusi, dan berkurangnya bisung usus, lemah tidak mampu defekasi dan flantus, anoraksia, haus, pernafasan dangkal.


3. PATOGENESIS
Patogenesis dari BBS belum selengkapnya diketahui. Infeksi terjadi melalui jalur hematogen dan 90% terdiri dari monomicrobial, permiabilitas usus penderita siroris hati terganggua sehingga dapat ditembus oleh kuman-kuman yang berada di dalam usus (terjadi translokasi kuman). Hal ini juga dapat disebabkan oleh pendarahan saluran cerna bagian atas, kuman-kuman tersebut masuk dan bersarang di kelenjar getah bening usus. Untuk selanjutnya masuk ke peredarahan darah sitemik melalui sistem limfatik. Pertahanan tubuh terganggu karena adanya intrahepatic shunting, dan fungsi retikuloendotalal juga menurun, maka terjadilah bakterimia. Cairan asites merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman, seh8ingga ketidak sempurnaan mekanisme opsonisasi didalam cairan asites menyebabkan opsonisasi terhadap kuman tidak efektif / terganggu akhirnya kuman-kuman tersebut tidak dapat dipargositosis oleh sel-sel PMN. Aktivitas opsonisasi didalam cairan aistes berhubungan dengan kadar protein didalamnya, sehingga lebih mungkin terjadi bila kadar protein cairan asitas kurang dari 1 gram per dl.

4. DIAGNOSIS
Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis, pemeriksaan laboratorium dan X-ray.
a. Gambaran Klinis
Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis, berat peritonitis dan jensi organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis dapat lokal, menyebar, atau umum. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bacterial primer yaitu adanya nyeri abdomen, demam, nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bacterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. Nyeri ini tiba-tiba, hebat dan penderita perforasi (misal perforasiu ulkus), nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. Pada keadaan lain (misal apendisitis), nyerinya mula-mula dikeranekan penyebab utamanya, dan kemudian menyebar sevara gradual dari fokus infeksi. Selain nyeri, pasien biasanya menunjukkan gejala an tanda lain yaitu nausea, vomitus, syok ((hipovelemik, septic dan neurogenik), demam, distensi abdominal, nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus atau umum, dan secara klasik biasing usus melemah atau menghilang. Gambaran klinis untuk peritonitis non bacterial akut sama dengan peritonitis bacterial, 1,3 peritonitis bacterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam, kelemahan, penurunan berat badan, dan distensi abdominal, sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat, demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah 3.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium di temukan adanya lekositotis, hemtokrit yang meningkat dan asidosis metabolic. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram / 100 ml) banyak limfosit, basil tuberkel di identifiaksi dengan kultur, Bisposi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar iagnosa sebelum hasil pembiakan di dapat 3.
c. Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan pnemuan yang tidak khas pada peritonitis, usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi 3.

5. PATOFISIOLOGI
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa, yang menempel menajdi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang dapat mengakibatkan obstuksi usus.
Peradangan menimbulkan akumulasi kalium karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika deficit cairan t5idak dikoreski secara cepat dan agresif maka dapat menimbulkan kematian sel pelepasan dan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulia respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipolemia. Organ-organ di dalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggal. Pengumpulan cairan di dalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkat tekanan intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum / aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, ususkemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kea lam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan okstruksi usus.
Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ilues ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus strangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh arah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan hekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan lumen-lumen Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plague penyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi ileum pada penderita yang demam selama kurang lebih 2 minggu yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defans muskulen, dan keadaan umum yang merosot karena toksemia. Perforasi tukak peptic khas di tandai oleh perangsangan perifoniam yang mulai di epigastrium dan meluas ke seluruh peritoneum akibat peritonitias generalisata. Perforasi lambung dan duodenum bagi8an depan menyebabkan peritonitias akuta penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti di tikam di perut. Nyeri ini timbul mendadat terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung, empedu dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi bacteria, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa mengeceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria.
Pada apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendisiles oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, struktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang di porudksi mukosa mengalami bendungan, makin lama mucus tersebuts makin banyak, namun elastititas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan oedem, diapedesis, bakteri, Mukosa dan obstruksi vena sehingga udem bertambah kemudian aliran bakteri terganggu akan terjadi infarsk dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau gangguan dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau gangguan dinding apendiks sehingag menimbulkan perforasi dan akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general.
Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen dapaty mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra peritoneal. Rangsangan peritoneal yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia onsernya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas misalnya di daerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah kolon mula-mula tidak terjadi gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembangan biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen, karena perangsangan peritoneum.

TERAPI PROFILAKSIS
Terapi profilaksis adalah terapi yang diberikan kepada penderita sirosis hati yang mempunyai risiko terjadinya peritonitis bakteri spontan, dan yang pernah mengalami peritonitis bacterial spontan. Tujuan diberikannya terapi profilaksis antibiotika adalah menurunkan insidens PBS, sehingga akan menurunkan angka kematian serta menghemat biaya perawatan di rumah sakit bila terjadi komplikasi PBS.
Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang menghilang secara intervena, pemberian anti biotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nosogenetik dan intestinal, pembuangna fokus septic (apendiks dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin menyalurkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkna nyeri. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. Pengembalian volume intravaskuler memperbaiki fungsi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urin tekana vena sentral dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.

Post Op
Pada penyakit peritonitis ini sebelum dilakukan laparatomi : terlebih dahulu dilakukan tindakan :
- Mencuci ruang peritoneum sebelum penutupan.
- Pemasangan lapasi peritoneum, tindakan ini harus dilakukan bersama dengan kemoterapi sistemik dan penanganan luka sebaik-baiknya.
- Untuk lapasi peritoneum dianjurkan berbagai macam larutan anstiseptik dan antibiotic.
- Lapasi peritoneum dilakukan dengan memasang kateter dralisis peritoneum subum bilikal atau suprapublik pada saat pembedahan. Lewat kateter ini dimasukkkan 1 liter larutan garam 0,9% yang mengandung antibiotik dengan interval yang teratur. Lapasi diteruskan sampai cairan yang kembali bebas dari sel nanah dan organisme pada sediaan apus langsung biasanya 3-4 hari.

Past Op
Setelah dilakukan operasi laparatomi, kemudian di lakukan penutupan irisan vertical transpektus. Yaitu dengan jarum menggeser aspek lateral perut yang teriris dari rektus, benang-benang di kencangkam , meliputi serabut-serabut medial yang di denarkasi.
- Di lakukan tindakan penyembuhan dengan menberikan obat antibiotik untuk proses penyembuhan.
- Di lakukan tindakan terapi tubuh/badan untuk proses penyembuhan.





BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.T
DENGAN PERITONITIS
DI BANGSAL

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan tanggal……bulan……….tahun…….. pukul……….di bangsal ……….
I. BIODATA
a. Biodata Klien
Nama : Ny. T
TTL : ….
Umur : 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : ……….
Agama : ……….
Suku :……..,.
Pendidikan : ……....
No. Cm : ……..
b. Biodata Penangung Jawab
Nama : Tn R.
TTL : ….
Umur : 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : ……….
Agama : ……….
Suku :……..,.
Pendidikan : ……....
Hubungan dgn Klien :


II. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama
Pasien merasa nyeri di bagian perut.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke rumah sakit..dengan keluhan nyeri di bagian perut, badan terasa panas dan sering mual-mual.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah menderita kista ovarium.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu klien pernah menderita kista ovarium
e. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Ibu klien
: Klien


f. Riwayat Kesehatan Lingkungan

III. POLA FUNGSI KESEHATAN
a.Persepsi terhadap kesehatan
b.Pola aktivitas latihan
Karena menderita penyakit tersebut, klien dalam beraktivitas di Bantu oleh orang lain di antaranya mandi, berpakaian/berdandan, eliminasi, mobilisasi di tempat tidur, pindah, ambulans, dan makan.
c.Pola istirahat tidur
Klien tidur sering terbangun akibat adanya nyeri pada perut.
d.Pola nutrisi metabolic
Nafsu makan klien menurun karena sering mual-mual dan muntah.
e.Pola Eliminasi
Klien BAB encer.
Klien BAK mengalami oliguri.
f.Pola Kognitif Perseptual
Status mental klien composmentis, bicara dan pendengaran normal.
g.Pola Konsep Diri
Selama sakit klien tidak dapat melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga.
h.Pola Koping
Klien takut terhadap kekerasan pandangan klien terhadap masa depan cukup optmimis.
i.Pola Seksual Reproduksi
Klien tidak mempunyai masalah dalam menstruasi, klien tidak pernah melakukan perawatan.
j.Pola Peran Hubungan
Klien sudah menikah, klien mendapat dukungan keluarga selama sakit dan dukungan dari yeman juga sangat baik.
k.Pola nilai dan Kepercayaan
Tidaka a larangan agama yang berhubungan dengan penyakitnya sekarang.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tadna Vital :
Ø Suhu : lebih dari 300C
Ø Nadi : lebih dari 100 x / menit
Ø TD : - Sistol kurang dari 100 mmHg
- Diastol kurang dari 60 mmHg
Ø Pernapasan : lebih dari 24 x /menit
Ø TB :
Ø BB :

b. Keadaan Umum
Kesadaran klien composmentis, kesan umum baik, wajah cukup baik, cara bicara pelan dan lemah.
c. Kulit, Rambut, Kuku
Warna kulit normal, terdapat lesi post op di perut kuku putih kemerahan, turgor kulit jelek.
d. Kepala
Simetris, tidak terdapat nyeri tekan dan tidak ada massa,
e. Mata
Mata bersih tidak secret, konjungtiva pucat, pupil isikor / sclera putih.
f. Telinga
Daun telinga simetris, membran timpani utuh, tidaka da nyeri tekan, cukup bersih tidak ada secret.
g. Hidung
Simetris, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada masa.

h. Mulut
Gigi tampak kotor, mulut bau, tidak ada stomatitis tidak aa nyeri tekan dan tidak ada masa, mukosa kering.
i. Leher
Tidak ada nyeri tekan dan tidak ada masa, tidak aa pembesarana tiroid.
j. Dada
Simetris, tidak ada nyeri tekan dan masa.
k. Abdomen
Bentuk simetrism, ada nyeri tekan, terdapat luka post op.
l. Ekstrmitas atas bawah
- Terpasang infus pada tangan kanan
- Kekuatan otot lemah

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Data Fokus
a. Data obyektif :
1. TTV = Nadi = lebih dari 100 x / menit
RR = lebih ari 24 x / menit
Suhu = lebih dari 370C
TD = Sistol kurang dari 100 mmHg
Diastol kurang dari 60 mmHg
2. Klien mengalami penurunan nafsum kana
3. Klien sering merasa mual
4. Terdapat radang abdomen
5. Terdapat luka post op pada abdomen
6. Klien sering muntah
7. Semua aktivitas klien dibantu orang lain.
8. Pasien BAB encer
9. Mukosa bibir kering
10. Turhor kulit jelek
11. Tidur kelien sering terganggu
12. Klien sering haus.
13. Konjungtiva pucat
14. klien kondisi tubuhnya lemah.

2. Analisis Data

DO : - TTV = *) Nadi > 100 x /menit
*) RR > 24 x / menit
*) Suhu > 370C
*) TD= - Sistol <100 mmHg
- Diastol <100 mmHg
- Terdapat raang abdomen
- Terdapat luka post-op pad abdomen
DS = -

DO = - Suhu > 370C
- Klien sering haus
- Mukosa bibir kering
DS = -

DO = terdapat luka post op pada abdomen
DS = -

Do = - Klien mengalami penurunan
Nafsu makan
- Klien sering muntah
- Klien sering mual
- Terdapat radang abdomen
- konjungtiva pucat
DS = -
DO = - Klien sering haus
- Turgor kulit jelek
- Suhu > 370C
- Membran mucosa kering
- Klien sering muntah
- Klien BAB encer

DS = -

DO = - Tidur klien sering terganggu
- Terdapat luka post-op

DS = -

DO = - Semua aktivitas klien dibantu orang
lain
- Klien kondisi tubuhnya lemah Agen cidera biologi


Dehidrasi
Faktor mekanik
Tidak mampu memasukkan, mencerna dan mengabsorpsi makanan karena factor biologi

Kehilangan volume cairan akti
Nyeri

Kelemahan secara menyeluruh
Nyeri akut
Hyperthermi
Kerusakan integritas kulit
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Kurang volume caira
Gangguan pola tidur
Imobilitas

Diagnosa Keperawatan dan prioritas masalah :
1.Nyeri akut b/d agen cidera biologi
2.Hyperthemi b/d dehirasi
3.Kerusakan integritas kulit b/d factor mekanik
4.Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan memasukkan mencerna dan mengasorbsi makanan karena factor biologi
5.Kurang volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif
6.Gangguan pola tidur b/d nyeri
7.Imobilitas b/d kelemahan secara menyeluruh

C. INTERVENSI

Waktu No. Dx Tujuan / NOC Intervensi / NIC
Tgl…….
Jam …..

1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….x24 jam diharapkan klien dapat :
-Mengenali factor penyebab
-Menggunakan metode pencegahan
-Menggunakan pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri
-Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan

2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …..x jam diharapkan klien dapat :
-Suhu tubuh dalam rentang normal
-Nadi dan RR dalam rentang normal
-Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …….. x 24 jam diharapkan :
-Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sen sasi, elastisitas, tempera tur, hidrasi, pigmentasi).
-Tidak ada luka / lesi pada kulit.
-Perfusi jaringan baik.
-Menunjukkan pemaha man dalam proses per baikan kulit dan mence gah terjadinya cedera berulang.
-Mampu melindungi kulit dan mempertahankan ke lembapan kulit dan perawatan alami.

4 Setelah dilakukan tinda kan keperawatan selama ……. x 24 jam diharap kan keadaan klien bagus dalam :
-Stamina
-Tenaga
-Kekuatan menggeng gam
-Penyembuhan jaringan
-Daya tahan tubuh

5 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ……… x 24 jam diharapkan :
-Tekanan darah dbn
-Keseimbangan intake dan output 24 jam
-Tidak haus berlebihan
-Membran mukosa lem bab
-Kelembaban kulit dbn

6 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ……… x 24 jam diharapkan :
-Klien dapat tidur dengan nyenyak
-Klien tidur dengan nyaman

7 Setelah dilakukan tinda kan keperawatan selama ……... x 24 jam diharap kan :
-Istirahat dan aktivi tas sumbang
-Tidur siang
-Mengetahui keterba tasan energinya.
-Menggunakan teknik konse rvasi energi
-Mengubah gaya hidup sesuai dengan tingkat energi

NOC

-Kaji suara komprehensif tentang nyeri meliputi : lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas / beratnya nyeri, dan factor-faktor presitipasi
-Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekpresikan nyeri
-Kaji latar belakang budaya pasien
-Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
-Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri

1
-Monitor suhu sesering mungkin
-Monitor IWL
-Monitor warna dan suhu kulit
-Monitor tekanan darah, nadi dan RR
-Berikan antipiretik

2
-Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
-Hindari kerutan pada tempat tidur.
-Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
-Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali.
-Monitor kulit akan adanya kemerahan.

3
-Kaji adanya alergi makanan.
-Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe.
-Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin c.
-Berikan substansi gula.
-Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

4
-Pertahankan intake dan out put yang akurat.
-Monitor status hidrasi (membrane mucosa) yang adekuat.
-MoniTor vital sign.
-Monitor status nutrisi.
-Monitor intake dan output.

5
-Anjurkan klien untuk mengatur posisi senyaman mungkin.
-Kaji faktor-faktor yang menganggu tidur klien.
-Kaji kebiasaan klien sebelum tidur.
-Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat penenang.

6
-Menentukan penyebab tole ransi aktifitas (fisik, psikolo gis atau motivasional).
-Berikan periode aktivitas selama beraktivitas.
-Monitor dan catat kemam puan untuk mentoleransi aktifitas.
-Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sum ber-sumber energi.
-Ajarkan pada klien bagaimana menggunakan teknik mengontrol perna pasan ketika beraktifitas


BAB III
PENUTUP


Dari penyusunan makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa peritonitis adalah kumpulan dan gejala diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi depans maskuler dan tanda-tanda umum inflansi.
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan sekitar peritonitis / semoga bisa berguna bagi kita semua.
Tentu kami sadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu apabila dalam penyajian makalah ini ada yang kurang jelas mohon memakluminya, karena kami masih dalam pembelajaran.
Terima kasih dan semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

·E. Marilyn. Dongeos. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC : Jakarta.
·Santosa. Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Habib Bilal : Prima Medika.
·Andra. 2006. Peritonitis. Jakarta.
·Bulecheck, Gloria M. 1996. Diagnosa Keperawatan Nanda Nic – Noc. Mosby, USA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar